Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Buah Melatih Kemandirian

"Manusia hanya bisa berencana, tapi Allah lah yang berkehendak menentukan akhirnya." Sepekan lalu, ketika memulai berencana untuk konsisten melatih kemandirian mencuci pakaian setiap hari, rasanya semua hal sudah tersusun rapi. "Pokoknya, saya harus bangun ketika alarm berbunyi. Lalu sholat. Lalu baca Quran, lalu mulai mencuci hingga menjemurnya." Batin saya menggebu, membayangkan betapa indahnya hidup dalam produktivitas yang terarah. Hingga tubuh memberikan sinyal-sinyal kelelahannya. Kemarin, masih hanya sekadar flu ringan. Hanya membuat kepala pusing sebentaran. Tapi malam tadi, perut mual tak tertahankan. Kepala semakin terasa berat, hidung mampet membuat lengkap 'penderitaan'. Eh, lebay banget ya penderitaan. Hehe. Tidur tak bisa nyenyak. Beberapa kali bangun mengatur ulang posisi tidur agar bisa bernafas dengan lancar. MasyaAllah.. Betapa mahalnya arti sebuah kesehatan. Betapa selama ini saya sering lalai dengan nikmat sehat yang Alla...

23 Tahun

Gambar
Ibu, sudah 23 Tahun dalam penanggalan masehi aku hidup di dunia sejak peristiwa pengorbanan nayawamu terjadi. Saat itu bulan Ramadhan, katamu. Aku lahir ke dunia, disambut dengan kebahagian seluruh anggota keluarga, juga harapan semoga kelak saat dewasa aku bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, serta agama. Barangkali engkaulah yang paling bahagia menyambut kelahiranku. Engkaulah, orang yang sembilan bulan lamanya dengan penuh kesabaran merawatku dalam kandungan. Aku sudah 23 tahun, bu. Angka yang sampai saat ini kadang masih belum kupercayai menjadi usiaku. Aku sudah besar ya, bu? Sudah banyak juga kesulitan-kesulitan yang menghimpitmu karenaku.  Rasanya, baru kemarin aku melewati malam saat listrik mati dengan dongeng-dongeng penghantar tidur yang kau bisikan ke telingaku. Aku masih mengingat dengan baik dongeng-dongeng itu, yang barangkali menjadikanku anak yang senang menulis dan membaca sastra. Aku juga masih ingat, ketika dahulu engk...

Melatih Kemandirian Day 6

  Tak terasa, sudah hari ke-enam saya melatih konsistensi kemandirian mencuci pakaian. Hari ini saya masih flu. Kepala terasa sedikit pusing. Inginnya tiduran saja di tempat tidur. Tapi kemudia saya baca-baca ulang tulisan-tulisan game level 2 saya di blog dari hari pertama sampai hari ke 5 kemarin. Sedih, karena saya sepertinya mengalami kemunduran. Akhirnya, saya putuskan untuk bangun saja.    Cucian hari ini sudah memenuhi satu bak ukuran sedang, karena kemarin saya melewati hari tanpa rutinitas mencuci pakaian. Oh iya, saya biasa mencuci dengan tangan. Satu persatu pakaian kotor saya masukkan ke dalam bak untuk direndam. Setelahnya, saya sikat satu persatu untuk kemudian saya bilas sekurang-kurangnya dua kali. Tapi pagi ini, saya hanya berkesempatan membilasnya satu kali, karena melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00. Artinya, saya harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah untuk mengajar.  Cucian saya yang belum selesai akhirn...

Unpredictable Exercise (Melatih Kemandirian Day 5)

Pagi ini saya harus rela meninggalkan rutinitas mencuci pakaian yang sudah beberapa hari dijalankan. Semalaman saya demam. Tidur tak nyenyak. Hingga adzan subuh berkumandang, kepala terasa berat. Tapi saya paksakan diri untuk tetap bangun. Saya teguk setengah gelas air perasan jeruk nipis yang tak lagi hangat sisa semalam ketika tenggorokan terasa kering. Setelah sholat subuh, saya berpikir ulang ketika ada niatan untuk tetap mencuci. Rasanya badan menggigil, pun sebenarnya cucian tak terlalu menumpuk. Hanya satu stel pakaian yang saya pakai kemarin. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan pekerjaan lain. Melihat gunungan pakaian yang saya cuci kemarin, saya pun mulai melipatnya satu persatu untuk jenis pakaian yang tak kusut. Sementara yang berbahan kusut, saya pisahkan untuk kemudian saya setrika.  Saya sisihkan setrikaan ke tempat tersembunyi. Sebab saya paling tidak suka melihat pakaian bersih maupun kotor tak tertata rapi. Setelah selesai merapikannya, saya mera...

Melatih (kembali) Konsistensi Kemandirian Day 4

Bahagia itu sederhana. Sesederhana ketika melihat keranjang cucian kotor kosong tak berisi. Hehehe. Alhamdulillah, hari ini berhasil kembali melatih konsistensi kemandirian dalam mencuci pakaian. Walau ternyata, setelah sekali berani berlepas diri dari kesepakatan yang telah dibuat dengan diri sendiri, rasanya berat untuk memulainya kembali.  Saya langsung bangkit dari tempat tidur, ketika mata telah terbuka tapi rasa malas masih menghantui. “ayo banguuuuun!’ kata saya dalam hati, memotivasi diri sendiri. Ah, memang harus selalu dipaksakan untuk awalan. Setelah sholat, saya mulai mengambil cucian kotor di keranjang. Kali ini lebih banyak, karena kemarin saya tidak konsisten melakukan aktivitas one day one washing . Tapi saya harus tetap semangat. Karena hari libur ini saya harus tetap keluar rumah untuk sebuah amanah dari sekolah. Alhamdulillah, aktivitas mencuci dengan penuh semangat hari ini selesai dengan cepat. Dan saya bisa meninggalkan rumah dengan agak tenang, k...

Wrong Result Day 3

Hari ini saya gagal melatih konsistensi kemandirian. Seharian kemarin aktivitas full di luar. Sampai rumah badan serasa remuk. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur cepat. Sebelum alarm berbunyi, sebenarnya saya sudah terbangun, tetapi rasa malas masih menghinggap. Sayapun memejamkan mata kembali.  Saya terbangun lagi ketika suara adzan samar-samar terdengar. “Haaaah.. saya telat bangun.” Pikir saya dalam hati. Saya pun langsung beranjak dari tempat tidur. Setelah sholat subuh, saya kebingungan. Antara memilih tetap konsisten mencuci pakaian atau menyetrika pakaian yang akan saya gunakan hari ini terlebih dahulu. Akhirnya saya putuskan untuk menyetrika pakaian yang harusnya saya lakukan malam hari sebelumnya.  Ketika hendak mencuci pakaian, kendala tak terduga datang. Seorang siswi SMP datang, meminta bantuan untuk mengerjakan PR. Mood saya berubah memburuk. “Pagi-pagi!!!!!” Hati saya menggerutu. Astaghfirullah. Tapi mau tidak mau saya harus membantunya, masa iya s...