Kepergian Bapak
Ba'da maghrib itu suara lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi rumah kami. Suara ibu, adik, dan aku sendiri. Sementara tubuh bapak masih terbaring lemah. Sejak pulang dari rumah sakit sepekan lalu, bapak memang tak menunjukkan perkembangan. Tubuhnya masih kaku. Ingatannya masih juga belum pulih. Kala itu, kami hanya mengharapkan mukjizat dariNya. "Pak. Nyebut yuk!" Aku kerap mengajaknya berdzikir. Biasanya, bapak yang kondisi kesadarannya menurun karena tumor yang bersarang di batang otaknya, masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat dzikir meski hanya sebatas kalimat tahlil atau takbir. "Laa ilaaha illallah. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Allahu akbar!" Sore itu, bapak mengucapkan dzikir ini. Meski dengan suara yang sangat pelan. Padahal sebelumnya, suaranya bisa lebih keras lagi. Aku tersenyum mendengar bapak masih bisa merespon kata-kataku. Kuusap dahinya. Kuiringi dengan doa bagi kesembuhannya. *** "Lho Mel. Kenapa bapak ditinggal sendiri?...