Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kepergian Bapak

Ba'da maghrib itu suara lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi rumah kami. Suara ibu, adik, dan aku sendiri. Sementara tubuh bapak masih terbaring lemah. Sejak pulang dari rumah sakit sepekan lalu, bapak memang tak menunjukkan perkembangan. Tubuhnya masih kaku. Ingatannya masih juga belum pulih. Kala itu, kami hanya mengharapkan mukjizat dariNya. "Pak. Nyebut yuk!" Aku kerap mengajaknya berdzikir. Biasanya, bapak yang kondisi kesadarannya menurun karena tumor yang bersarang di batang otaknya, masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat dzikir meski hanya sebatas kalimat tahlil atau takbir. "Laa ilaaha illallah. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Allahu akbar!" Sore itu, bapak mengucapkan dzikir ini. Meski dengan suara yang sangat pelan. Padahal sebelumnya, suaranya bisa lebih keras lagi. Aku tersenyum mendengar bapak masih bisa merespon kata-kataku. Kuusap dahinya. Kuiringi dengan doa bagi kesembuhannya. *** "Lho Mel. Kenapa bapak ditinggal sendiri?...

Sebentar lagi!

Gambar
Saya kerap menyemangati diri saya sendiri, ketika kejenuhan mulai mengusik penerimaan atas takdir yang telah Allah gariskan. Sebentar lagi! Waktu memang demikian. Kerap terasa melambat saat ia diisi dengan hal yang kita tak ingin ia menimpa. Tapi justru dr sanalah, kita jadi benar-benar mengerti, bahwa kita hanyalah hamba yang tiada kuasa apa-apa. Allah-lah, yg berkuasa mengatur hidup kita. Saya sempat melewati masa-masa keputusasaan saat berbulan-bulan harus mengurusi bapak yang keadaannya kembali seperti saat awal-awal dilahirkan. Terkadang, saya yang sok tegar ini begitu saja tiba-tiba menangis. Mengeluh. Jenuh. Tapi rupanya, tiap tangisan itu adalah energi baru yang terus menguatkan. Tiap tangisan itu adalah caraNya menunjuki saya akan kekuasaanNya yang tak dapat saya lawan dengan keputusasaan. Melainkan dengan doa. Ya. Meski ijabah atas doa-doa yang saya lambungkan tak serta merta terlihat, setidaknya ada harapan yang takkan patah. Ada nikmat yang jauh lebih besar dari pen...