Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Master Mind RBS

Sebelum project Rumah Bebas Sampah (RBS) ini berjalan di rumah kami, saya sering uring-uringan. Apalagi setelah beres-beres rumah di hari Ahad, lantas hari Seninnya sudah melihat sampah berceceran, huuuuh rasanya kesal setengah hidup. Seisi rumah seakan tak punya tanggung jawab terhadap kebersihan dan kerapihan rumah. Rasa ingin menyalahkan mereka terlalu besar dan sangat beralasan buat saya pada awalnya. Namun, setelah saya pikirkan lagi, saya juga ikut andil dalam ketidakberesan rumah kami. Ialah karena selama ini, kesadaran saya terhadap kebersihan dan kerapian rumah, tidak dapat menyadarkan anggota keluarga lainnya untuk melakukan yang sama. Mengapa? Setidaknya ada 2 hal yang jadi kendala. Yang pertama adalah komunikasi. Selama ini saya menginginkan keluarga untuk punya kesadaran masing-masing untuk menjaga kebersihan rumah. Tapi saya tak menyampaikan keinginan tersebut dengan baik. Seringkali, kekesalan membuat komunikasi tidak produktif mendominasi. Kedua, selama ini saya tak mel...

Day 7

Pagi tadi setelah menyelesaikan tugas kemandirian (mencuci pakaian), saya bergegas melapor kepada Leader RBS, Imel. "Komandan, lapor hari ini tugas saya membersihkan sampah." Canda saya. "Iya tuh, Imel udah bersihin plastik-plastik juga lho." Katanya dengan bangga setelah ternyata ia baru saja menyatukan sampah-sampah plastik meski hari ini bukan jadwalnya. Yang juga membuat saya senang hari ini adalah, Imel sudah bangun saat saya sendiri belum bangun 😂 Ternyata Imel puasa hari ini, maka ia bangun lebih awal dan sahur berdama Ibu. Setelah slesai beberes cucian, saya satukan sampah-sampah ke dalam satu plastik besar untuk kemudian dibuang oleh ibu. Alhamdulillah. #TantanganHari7 #GameLevel3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

Beautiful Day 6

Belajar dari kesalahan kemarin, pagi ini saya mengawali hari dengan evaluasi diri. Meski dalam hati masih ada sedikit rasa kesal melihat Imel yang masih terbaring di tempat tidur, sementara jam menunjukkan pukul 5 lewat. Saya menarik nafas, berusaha membuat semuanya tetap rileks. Saya bangunkan ia. Lantas setelah dirasa nyawanya sudah berkumpul, dengan nada setengah candaan, saya mengingatkannya bahwa hari ini adalah jadwalnya membersihkan sampah. Meski awalnya dengan malas-malasan, akhirnya Imel membersihkan sampah juga.  Ohiya, pagi tadi, Ibu kami menawarkan diri untuk ambil bagian dalam project kami ini. Sementara saya dan Imel akan membersihkan sampah dari tempatnya untuk kemudian disatukan dalam satu kantong besar, ibu kami yang akan membuangnya ke tempat pembuangan akhir. Yippppiiii.. Bertambah juga personel inti dari RBS di rumah kami. Alhamdulillaah :) #TantanganHari6 #GameLevel3 #MyFamilyMyTeam #KuliahBunsayIIP

Unproductive Communication

Senin kemarin, harusnya Imel menjalankan tugasnya sebagai pembuang sampah ke tempat pembuangan akhir. Tapi, hanya karena satu kesalahan yang dilakukan Imel yang barangkali ia belum mengerti bahwa itu sebuah kesalahan, amarah saya meletup-letup. Kata-kata saya jadi tak terkontrol. Ia menangis, meski tak lama. Ibu kami berusaha mendamaikan meski mungkin mengerti juga perihal kemarahan saya. Hening di antara kami. Tak ada obrolan apapun. Apalagi bicara soal project yang tengah kami jalankan bersama. Project Rumah Bebas Sampah. Barangkali, tempat-tempat sampah di setiap sudut ruang itu menjadi saksi bisu di keheningan antara kami. Sebenarnya, senin itu bukan satu-satunya masalah yang hadir di rumah kami. Ada masalah yang kami pendam masing-masing. Saya memendamnya, juga barangkali yang lain. Ya Rabbii.. Kondisi hati memang nyata memengaruhi seluruhnya. Meski setelahnya, saya terus beristigfar memohon ketenangan diri atas segala ujian yang Allah hadiahi. Keesokan harinya, saya membang...

RBS day 4

Sabtu dan Ahad ini, sang leader ada kegiatan sekolah di luar. Imel mengikuti kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa sebagai perwakilan kelasnya. Akhirnya tugasnya dilimpahkan kepada kakaknya yang sebenarnya sama-sama sibuk di weekeend kali ini. Sabtu Ahad ada agenda di luar juga, jadilah jadwal membuang sampah tersendat, meski tetap bersyukur karena tempat-tempat sampah di rumah masih berfungsi sebagaimana mestinya. Alhamdulillah anggota keluarga sudah membuang sampah pada tempat-tempat sampah yang disediakan. Siang kemarin selesai pulang dari memandu acara dongeng anak-anak, saya nelihat tempat sampah di hampir semua ruang hampir meluber. Inilah hasil dari ketidakkonsistenan. Harusnya saya membuang sampah ke tempat pembuang dua hari lalu. Namun karena waktu yang abai saya atur dengan baik, ditambah kondisi hati yang sedang semerawut karena ada masalah kecil beberapa hari ini, jadilah project RBS ini sedikit terhambat. Huaaaa, kecerdasan spritual, emosional, dan menghadapi tantang...

Menjalankan Jadwal RBS #Day1

Setelah malamnya kami menempatkan tempat-tempat sampah di beberapa sudut rumah, pagi harinya saya dapati sudah lumayan banyak sampah yang ada di dalamnya. Alhamdulillah. Saya bersyukur, sebab tidak ada lagi saya lihat sampah-sampah bercecer di sembarang tempat.  Berdasar jadwal yang tlah dibuat leader, yaitu Imel adik saya, Kamis ini adalah Imel sendiri yang bertugas membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Tapi pagi itu benar-benar hectic. Entah apa yang membuat Imel lama-lama bersiap. Sebelumnya tlah saya ingatkan bahwa pagi ini, Imel yang harus membuang sampah. Ia hanya mengangguk. Sampai ketika saya tlah siap berangkat, Imel masih belum memakai jilbabnya. Saya mulai agak kesal, terlebih ketika saya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.35. Biasanya kami sudah berangkat. Karena jarak rumah dengan tempat saya mengajar lumayan jauh. Akhirnya secara spontan saya marah (astaghfirullah). Saya buru-buru mengeluarkan sepeda motor. Imel mulai cemberut dan langsung bers...

RBS in Action

Rabu sore tiba di rumah melihat kondisi rumah yang tak sesuai harapan, membuat nafas terhela panjang. Tapi beruntungnya, mood sedang tak begitu buruk. Langsung saja saya ajak Imel beraksi. Kami berbagi tugas. Imel menyapu, dan saya yang mengepel lantai. Setelahnya, kami siapkan ember-ember bekas eskrim yang disulap jadi tempat sampah. Kami alasi dengan plastik-plastik besar bekas Ibu kami belanja di pasar. Lantas kami simpan di pojok-pojok tiap ruang. Karena keterbatasan tempat sampah, dan sayapun belum sempat membeli tambahannya, kami baru sempat menyediakan tempat sampah di ruang tv, ruang tamu, di depan kamar, dan di pojok kulkas. Sementara di kamar mandi dan dapur, memang sudah dari sebelumnya ada, meski kadang kurang efektif karena tidak adanya penanggung jawab sampah yang membuat sampah meluber tidak ada jadwal pembuangannya. Setelahnya kami umumkan kepada seluruh penghuni rumah kecuali kakak saya yang saat itu tidak ada di rumah. Alhamdulillah semua setuju. Semua bahagia melih...

Project Rumah Bebas Sampah (RBS)

Selasa sore setelah pulang dari aktivitas di luar rumah, saya mulai mengajak Imel, adik yang 10 tahun lebih muda dari saya. Saya ajak ia ke kamar. Lantas saya coba membuka obrolan, tentang kondisi rumah yang lebih sering seperti kapal pecah meski tidak ada anak kecil di dalamnya. Ini memang PR besar buat kami, buat saya. Nyatanya memang, memandirikan orang dewasa itu jauh lebih sulit bila dibanding memandirikan anak kecil. Sebab, suatu kebiasaan jika terus dilakukan secara berulang, dan dalam waktu yang lama, maka untuk menghentikannya bukanlah satu perkara mudah. Tapi, bismillah. Saya harus tetap optimis! Di rumah kami, ada 5 orang penghuni. Bapak, Ibu, Kak Restu, Saya, dan Imel. Dalam hal kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kerapihan rumah, sayalah yang paling sering uring-uringan melihat rumah bak kapal pecah. Maka seringkali saat menyapu rumah, saya menghabiskannya dalam waktu yang lebih lama. Karena tak sekadar menyapu, saya juga kerap membetulkan posisi benda-benda di...

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Alhamdulillah.. Allah masih memperkenankan saya belajar hingga sampai di titik ini. Sejak awal bergabung dengan komunitas Ibu Professional, saya sudah merasa nyaman dan merasakan banyak manfaat yang bisa saya ambil dari komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah para ibu. Saya memang belum tahu, belum bisa juga merasakan sepenuhnya, bagaimana suka dukanya menjadi seorang ibu, terlebih ibu yang professional. Ibu yang tidak hanya bicara soal menjalankan rutinitas mendidik anak dan menyelesaikan pekerjaan rumah pada umumnya, tapi Ibu yang bercita-cita besar. Salah satunya ialah cita-cita ingin menghantarkan anak-anaknya menjadi anak yang mandiri hingga bisa menghadapi dunia dengan penuh kesiapan, bagaimanapun medannya. Sungguh, bukan suatu hal yang mudah untuk melatih kemandirian, terlebih untuk konsisten menjalankannya. Saya yang hanya melatih diri saya sendiri saja masih merasa kewalahan. Masih sering merasa abai dengan apa yang diazamkan di awal-awal. Ibarat lift yang naik ...

Pernahkan Kita Menyalahkan Keadaan?

Keadaan tak pernah salah. Cara kita menyikapinyalah yang membuat berbeda. (ermarini) Pernahkah kita menyalahkan keadaan, disaat sebenarnya kita sendiri yang tak bisa membaca pelajaran. Pernahkan kita melakukan kesalahan, lantas kemudian berdalih, "ini karena keadaan." Itu tak lain seperti seorang pencuri yang ketika tertangkap basah sedang mencuri, lantas mengatakan, "ini karena keadaan." Padahal jika kita mau jujur saat melakukan kesalahan, akui saja bahwa memang itu sebuah kesalahan, sebuah kekurangan. Yang dengan hati terbuka sangat mungkin untuk kemudian diperbaiki hingga kesalahan bukan lagi satu kata tunggal yang bermakna negatif. Tapi ia akan berubah menjadi pelajaran yang sangat menguntungkan. Pernahkan kita menyalahkan keadaan, disaat berkali-kali gagal sedang yang lain nampak dimata kita tlah mencapai kesuksesan? Akui saja bahwa kita belum berhasil, bukan karena keadaan, tapi karena ada yang masih perlu diubah atau diperbaiki dari proses kita. Ada doa...

Melatih Kemandirian Day 10

Alhamdulillah, Sabtu ini saya bisa merasakan libur dari rutinitas mengajar di sekolah. Rasanyaa bahagia sekali tanpa diburu waktu saat pagi tiba. Hari ini artinya saya tak bisa melatih kemandirian mencuci piring di sekolah. Tapi kemudian saya ganti dengan mencuci di rumah dengan jumlah yang lebih banyak 🙇 Setelah selesai mencuci piring, saya melihat rumah lumayan berantakan. Padahal sebenarnya, saya paling tidak suka melihat pemandangan ini. Terakhir saya menatanya dengan metode 5R bunda cekatan sekitar 4 bulan lalu. Tumpukan baju kotor sudah menunggu. Meski awalnya dengan agak malas-malasan, akhirnya saya kerjakan tugas kemandirian itu. Heheu. Setelah selesai mencuci, ibu saya menawarkan untuk menjemurnya. Sementara saya melihat-lihat ruangan yang sekiranya akan saya 'sentuh' hari ini. Mulai dari ruang tamu hingga dapur. Meski rasanya ingin berbenah hingga selesai, tapi saya harus tetap membatasi aktivitas ini, karena ba'da zhuhurnya saya harus keluar untuk suatu ke...

Melatih Kemandirian Day 9

Pagi tadi saya bangun 'kesiangan'. Saat adzan sayup-sayup terdengar, rasanya berat untuk bangkit dari pembaringan. Mungkin karena tiga hari terakhir ini saya 'membolehkan' diri saya bangun tepat alarm adzan subuh berkumandang, bukan saat alarm di ponsel yang sudah saya atur agar berbunyi 1 jam sebelum adzan subuh. Padahal rasa sakit yang 3 hari terakhir ini saya rasakan mulai berangsur sembuh. Hanya flu ringan saja yang masih tersisa. Rencananya, hari ini saya akan kembali ke rutinitas mencuci pakaian setelah sebelumnya slama saya sakit, tumpukan pakaian kotor mulai terlihat, mengganggu pemandangan 😂 Meski ternyata, tumpukan cucian itu saya lihat kemarin sore sudah raib, dilahap ibu saya yang baik hati dan tidak sombong. Hehe. Jadi pagi tadi kalau saya mencucipun sebenarnya tak banyak. Hanya satu stel pakaian yang saya kenakan hari kemarin. Tapi, karena melihat waktu yang seolah bergerak cepat, akhirnya saya meninggalkan rumah tanpa mencicil untuk mencuci pakaian. Haaa...

Dari Hal Sederhana (Melatih Kemandirian Day 8)

Tak terasa, sudah masuk hari ke-8 saya melatih kemandirian. 7 hari berlalu dengan latihan konsisten mencuci pakaian. Walau hasilnya tak sesuai harapan. Hari ini, saya memang sudah berencana menambah 1 skill kemandirian lagi. Sebenarnya, banyak sekali skill kemandirian yang terpikirkan untuk dikerjakan. Sampai kemudian saya berpikir dan berpikir. Melihat kondisi dan prioritas. Hingga saya memutuskan untuk melakukan 1 hal sederhana yang ingin saya latih 1 pekan ke depan. Apa itu??? Mencuci piring sendiri. Pikiran ini muncul ketika beberapa hari lalu saya melihat gunungan piring kotor di dapur sekolah. Ini terjadi karena para pengguna dengan mudahnya meletakkan piring gelas yang baru digunakannya begitu saja. Di sembarang tempat terkadang. Dan itu termasuk saya. Hiksss. Meski memang ada ibu dapur yang biasa mencucinya, tapi tak ada salahnya ya jika setiap orang yang menggunakan piring bertanggungjawab untuk mencuci piring (gelas)nya sendiri, atau paling tidak, menyimpannya pada tempatny...