Pernahkan Kita Menyalahkan Keadaan?
Keadaan tak pernah salah. Cara kita menyikapinyalah yang membuat berbeda. (ermarini)
Pernahkah kita menyalahkan keadaan, disaat sebenarnya kita sendiri yang tak bisa membaca pelajaran. Pernahkan kita melakukan kesalahan, lantas kemudian berdalih, "ini karena keadaan." Itu tak lain seperti seorang pencuri yang ketika tertangkap basah sedang mencuri, lantas mengatakan, "ini karena keadaan." Padahal jika kita mau jujur saat melakukan kesalahan, akui saja bahwa memang itu sebuah kesalahan, sebuah kekurangan. Yang dengan hati terbuka sangat mungkin untuk kemudian diperbaiki hingga kesalahan bukan lagi satu kata tunggal yang bermakna negatif. Tapi ia akan berubah menjadi pelajaran yang sangat menguntungkan.
Pernahkan kita menyalahkan keadaan, disaat berkali-kali gagal sedang yang lain nampak dimata kita tlah mencapai kesuksesan? Akui saja bahwa kita belum berhasil, bukan karena keadaan, tapi karena ada yang masih perlu diubah atau diperbaiki dari proses kita. Ada doa yang barangkali belum tulus kita panjatkan.
Pernahkah kita menyalahkan keadaan, disaat kita lihat yang lain seolah lebih beruntung dari apa yang kepada kita Tuhan takdirkan? Padahal Tuhan sendiri tak menilai pahala kita dari apa yang tlah Dia takdirkan. Tapi hati, penerimaan, ialah yang diteropong olehNya untuk menempatkan dimana posisi kita. Ahli takwa atau sebaliknya?
Pernahkah kita menyalahkan keadaan? Lantas kita jadikan alasan untuk melakukan keburukan? Seperti seorang pecandu narkoba yang berdalih karena kejenuhan lantas ia membolehkan dirinya untuk mengkonsumi ekstasi? Padahal kalau ia mau berpikir jernih, sujud pada Yang Maha Kuasa, itu pasti lebih mendamaikan.
Tapi memang, hidup adalah pilihan. Termasuk memilih untuk menyalahkan keadaan, atau memperbaiki keadaan.
Pernahkah kita menyalahkan keadaan, disaat sebenarnya kita sendiri yang tak bisa membaca pelajaran. Pernahkan kita melakukan kesalahan, lantas kemudian berdalih, "ini karena keadaan." Itu tak lain seperti seorang pencuri yang ketika tertangkap basah sedang mencuri, lantas mengatakan, "ini karena keadaan." Padahal jika kita mau jujur saat melakukan kesalahan, akui saja bahwa memang itu sebuah kesalahan, sebuah kekurangan. Yang dengan hati terbuka sangat mungkin untuk kemudian diperbaiki hingga kesalahan bukan lagi satu kata tunggal yang bermakna negatif. Tapi ia akan berubah menjadi pelajaran yang sangat menguntungkan.
Pernahkan kita menyalahkan keadaan, disaat berkali-kali gagal sedang yang lain nampak dimata kita tlah mencapai kesuksesan? Akui saja bahwa kita belum berhasil, bukan karena keadaan, tapi karena ada yang masih perlu diubah atau diperbaiki dari proses kita. Ada doa yang barangkali belum tulus kita panjatkan.
Pernahkah kita menyalahkan keadaan, disaat kita lihat yang lain seolah lebih beruntung dari apa yang kepada kita Tuhan takdirkan? Padahal Tuhan sendiri tak menilai pahala kita dari apa yang tlah Dia takdirkan. Tapi hati, penerimaan, ialah yang diteropong olehNya untuk menempatkan dimana posisi kita. Ahli takwa atau sebaliknya?
Pernahkah kita menyalahkan keadaan? Lantas kita jadikan alasan untuk melakukan keburukan? Seperti seorang pecandu narkoba yang berdalih karena kejenuhan lantas ia membolehkan dirinya untuk mengkonsumi ekstasi? Padahal kalau ia mau berpikir jernih, sujud pada Yang Maha Kuasa, itu pasti lebih mendamaikan.
Tapi memang, hidup adalah pilihan. Termasuk memilih untuk menyalahkan keadaan, atau memperbaiki keadaan.
Komentar
Posting Komentar