Mendidik Anak dengan Bahagia
Menjadi orang tua memang bukan tugas yang mudah. Terlebih di zaman yang katanya semakin modern ini. Kita dituntut untuk terus berpacu dengan segala perubahan yang begitu cepat. Jika kita enggan untuk terus belajar, maka sangat mungkin kita akan sangat kelelahan atau bahkan kebingungan dalam mendidik anak-anak.
Namun sebagai muslim, kita patut bersyukur. Sebab kita telah memiliki panduan lengkap, termasuk bagaimana cara mendidik anak. Panduan itu bernama Al-Quran, kitab suci yang terjaga hingga akhir kehidupan di bumi ini.
Dalam sebuah kajian bertema Sentuhan Parenting, Ustadz Budi Ashari menjelaskan, bahwa sebenarnya mendidik anak itu bisa menjadi mudah, manakala kita berpegang teguh pada pedoman utama kita yaitu Al-Quran dan Sunnah. Salah satu pelajaran yang dapat kita petik soal mendidik anak ini ada dalam kisah keluarga Imran yang Allah abadikan dalam QS. Ali Imran mulai dari ayat 35 hingga 37.
Jika dirangkum, ada tiga poin besar yang harus kita perhatikan agar mendidik anak menjadi tugas yang tak membebani sebaliknya kita bersemangat dan bahagia dalam menjalankannya.
Pertama, lakukan saja tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua semaksimal yang kita mampu. Mendoakan, memberi nama yang baik, berusaha menjadi teladan, memohon perlindungan dari gangguan syetan, itulah contoh tugas-tugas kita sebagai orang tua sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Ibunda Maryam dalam QS. Ali Imran ayat 35-36.
Kedua, niatkan dalam hati kita bahwa segala hal yang kita lakukan dalam rangka mendidik anak-anak adalah bentuk amal shalih yang kita harapkan sampai diterima oleh Allah swt. Dengan demikian, kita akan senantiasa bersemangat karena berharap pahala terbaik dari-Nya. Pun menurut Ustadz Budi, saat sesuatu hal kita lakukan dengan niat amal ibadah, maka insyaAllah Allah langsung yang akan menolong saat kita menemui kesulitan-kesulitan dalam proses menjalankannya. Allah lah yang akan menambal yang kurang dari diri kita. Sebagai manusia biasa yang punya keterbatasan, tentu kita sangat mengharapkan pertolongan itu.
"Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh? Dia (Maryam) menjawab, Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 37)
Lihatlah bagaimana Maryam, disebutkan dalam ayat di atas, langsung diurusi oleh Allah swt. Dibesarkan, diberikan rezeki, bahkan diberikan sosok ayah pengganti yang seorang Nabi yakni Nabi Zakariya as. Dikatakan oleh Ustadz Budi, bahwa dalam beberapa riwayat dikatakan Maryam lahir dalam keadaan yatim. MasyaAllah. Allahu akbar.
Ketiga, bertawakkal pada Allah. Setelah kita sempurnakan ikhtiar, serta terus mendoakan yang terbaik bagi anak-anak kita, tiada hal yang lebih menenangkan selain berserah diri kepada Allah swt. Biarkan tangan Allah yang bekerja memberi hasil terbaik yang sangat mungkin membuat takjub. Sebagaimana Allah telah melakukannya pada Maryam.
Semoga kita semua dapat menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak kita, karena pertolongan-Nya.
Wallahua'lam.
Komentar
Posting Komentar