Project Rumah Bebas Sampah (RBS)
Selasa sore setelah pulang dari aktivitas di luar rumah, saya mulai mengajak Imel, adik yang 10 tahun lebih muda dari saya. Saya ajak ia ke kamar. Lantas saya coba membuka obrolan, tentang kondisi rumah yang lebih sering seperti kapal pecah meski tidak ada anak kecil di dalamnya. Ini memang PR besar buat kami, buat saya.
Nyatanya memang, memandirikan orang dewasa itu jauh lebih sulit bila dibanding memandirikan anak kecil. Sebab, suatu kebiasaan jika terus dilakukan secara berulang, dan dalam waktu yang lama, maka untuk menghentikannya bukanlah satu perkara mudah. Tapi, bismillah. Saya harus tetap optimis!
Di rumah kami, ada 5 orang penghuni. Bapak, Ibu, Kak Restu, Saya, dan Imel. Dalam hal kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kerapihan rumah, sayalah yang paling sering uring-uringan melihat rumah bak kapal pecah. Maka seringkali saat menyapu rumah, saya menghabiskannya dalam waktu yang lebih lama. Karena tak sekadar menyapu, saya juga kerap membetulkan posisi benda-benda di rumah yang menurut saya tak sesuai pada tempatnya. Sementara, kakak lelaki saya??? Huhaaaa.. Ini mungkin ujian kesabaran buat saya. Sering sekali dia dengan mudahnya membuang sampah di sembarang tempat. Menyimpan baju kotornya di kasur, handuk basah di kamar, de el el. Mungkin ini karena ia tidak dilatih kemandiriannya sejak kecil ya 😐
Tibalah saat saya dan Imel menemukan ide untuk membuat project sederhana dari masalah ini. Sangat sederhana. Nama projectnya adalah RBS atau Rumah Bebas sampag. Dimana kami akan menyiapkan tempat-tempat sampah di setiap pojok ruang. Barangkali terdengar aneh. Sudah seperti di sekolah atau rumah sakit saja ya. Tapi, ini ikhtiar kami. Smoga dimulai dari disiplin membuang sampah, kebersihan dan kerapihan rumah kami bisa terjaga.
Bertindak sebagai leader adalah Imel. Ia yang kemudian membagi tugas. Tugas membuang sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) adalah saya dan Imel. Sementara yang lain bertanggung jawab juga dalam membuang sampah secara disiplin ke tempat sampah. Tidak ada alasan apapun, sebab smua ruang nampak benda kecil beralaskan plastik yang siap menampung sampah bekas apapun, bekas siapapun. Sang leader membuat jadwal saat itu juga. Jadi secara bergantian, saya dan Imel akan membuang sampah selang satu hari. Sementara untuk alat dan bahan yang dibutuhkan, kami hanya membutuhkan temoat sampah, yang saya siasati dengan ember-ember bekas eskrim yang ada di rumah. Lumayan ya jadi low budget 😂
Waktu membuang sampah saat pagi hari. Dan project ini akan berlangsung di 7 hari pertama ke depan dimulai tanggal 23 Maret 2017, untuk nanti kami perbaiki dengan ide-ide lainnya.
Bismillaah..
#TantanganHari1
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
Komentar
Posting Komentar