Unproductive Communication
Senin kemarin, harusnya Imel menjalankan tugasnya sebagai pembuang sampah ke tempat pembuangan akhir. Tapi, hanya karena satu kesalahan yang dilakukan Imel yang barangkali ia belum mengerti bahwa itu sebuah kesalahan, amarah saya meletup-letup. Kata-kata saya jadi tak terkontrol. Ia menangis, meski tak lama. Ibu kami berusaha mendamaikan meski mungkin mengerti juga perihal kemarahan saya.
Hening di antara kami. Tak ada obrolan apapun. Apalagi bicara soal project yang tengah kami jalankan bersama. Project Rumah Bebas Sampah.
Barangkali, tempat-tempat sampah di setiap sudut ruang itu menjadi saksi bisu di keheningan antara kami. Sebenarnya, senin itu bukan satu-satunya masalah yang hadir di rumah kami. Ada masalah yang kami pendam masing-masing. Saya memendamnya, juga barangkali yang lain. Ya Rabbii.. Kondisi hati memang nyata memengaruhi seluruhnya. Meski setelahnya, saya terus beristigfar memohon ketenangan diri atas segala ujian yang Allah hadiahi.
Keesokan harinya, saya membangunkan Imel pelan-pelan. Tapi ia meringkih sakit. Haah.. Saya tak tega untuk melanjutkan.
Saya perhatikan satu persatu tempat sampah. Semua masih berdiri tegak dengan sampah yang tak terlalu teronggok. Hingga akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke sekolah dengan sebuah harapan. Semoga, apapun yang terjadi dalam diri, Allah senantiasa membersamai. Hingga sgala kesulitan, ada kemudahan menyertai.
#TantanganHari5
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
Hening di antara kami. Tak ada obrolan apapun. Apalagi bicara soal project yang tengah kami jalankan bersama. Project Rumah Bebas Sampah.
Barangkali, tempat-tempat sampah di setiap sudut ruang itu menjadi saksi bisu di keheningan antara kami. Sebenarnya, senin itu bukan satu-satunya masalah yang hadir di rumah kami. Ada masalah yang kami pendam masing-masing. Saya memendamnya, juga barangkali yang lain. Ya Rabbii.. Kondisi hati memang nyata memengaruhi seluruhnya. Meski setelahnya, saya terus beristigfar memohon ketenangan diri atas segala ujian yang Allah hadiahi.
Keesokan harinya, saya membangunkan Imel pelan-pelan. Tapi ia meringkih sakit. Haah.. Saya tak tega untuk melanjutkan.
Saya perhatikan satu persatu tempat sampah. Semua masih berdiri tegak dengan sampah yang tak terlalu teronggok. Hingga akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke sekolah dengan sebuah harapan. Semoga, apapun yang terjadi dalam diri, Allah senantiasa membersamai. Hingga sgala kesulitan, ada kemudahan menyertai.
#TantanganHari5
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
Komentar
Posting Komentar