Kepergian Bapak

Ba'da maghrib itu suara lantunan ayat suci Al-Quran memenuhi rumah kami. Suara ibu, adik, dan aku sendiri. Sementara tubuh bapak masih terbaring lemah. Sejak pulang dari rumah sakit sepekan lalu, bapak memang tak menunjukkan perkembangan. Tubuhnya masih kaku. Ingatannya masih juga belum pulih. Kala itu, kami hanya mengharapkan mukjizat dariNya.


"Pak. Nyebut yuk!" Aku kerap mengajaknya berdzikir. Biasanya, bapak yang kondisi kesadarannya menurun karena tumor yang bersarang di batang otaknya, masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat dzikir meski hanya sebatas kalimat tahlil atau takbir.

"Laa ilaaha illallah. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Allahu akbar!" Sore itu, bapak mengucapkan dzikir ini. Meski dengan suara yang sangat pelan. Padahal sebelumnya, suaranya bisa lebih keras lagi.

Aku tersenyum mendengar bapak masih bisa merespon kata-kataku. Kuusap dahinya. Kuiringi dengan doa bagi kesembuhannya.

***

"Lho Mel. Kenapa bapak ditinggal sendiri?" Tanyaku dengan nada tinggi pada adikku sesaat melihat bapak seorang diri di tempat tidurnya. Dalam keadaan menggigil! Aku dan ibu baru saja pulang setelah mencari-cari gas elpiji yang sedang langka ketika itu.


"Sudah kuselimuti." Adikku, Imel, membela diri. Meski dengan nada suara yang semakin merendah. Ketakutan.

"Sudah. Mungkin Imel takut." Sergah ibuku meredakan emosiku.

Aku langsung menyergap tubuh bapak. Kuangkat kepalanya, kemudian kuletakkan dalam pangkuanku.
"Bapak, sakit ya?" Tanyaku penuh simpatik. Bapak menggangguk. Suara nafasnya sudah tak beraturan. Aku menangis.
"Dingin ya, Pak?" Tanyaku lagi.
Lagi, bapak mengangguk. Tubuhnya berusaha bangun. Tangannya meraih ibuku. Kepalanya kini berpindah ke pangkuan ibu.
"Bapak mau menyampaikan apa?" Ibuku seolah tahu bahwa tanda kepergian bapak sudah teramat jelas. Bapak hanya merespon dengan sorot matanya. Dengan tangannya yang nampak ingin memeluk ibu.

Kalimat syahadat terus kubisikkan di telinga bapak. "Pak. Ikuti ya!" Ucapku sesekali. Kupegang tapak kakinya.  Dingin. Pikiranku kalut. Nafas bapak mulai jarang. Kemudian semakin lama semakin tak terdengar. Isak tangis mulai bergemuruh. Ibu dan adikku memeluk tubuh bapak yang kini kaku. Aku menatap nanar pemandangan itu. Setengah tak percaya, tapi ia nyata. Di depan mataku yang mulai turun airmata.

19 Februari 2018 - 29 Maret 2018


#RBMenulisBanten
#ODOP31Hari
#TantanganMenulis
#Day25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Bakso

Mendidik Anak dengan Bahagia

ADMIN GRUP ~