23 Tahun
Ibu,
sudah 23 Tahun dalam penanggalan masehi aku hidup di dunia sejak peristiwa
pengorbanan nayawamu terjadi. Saat itu bulan Ramadhan, katamu. Aku lahir ke
dunia, disambut dengan kebahagian seluruh anggota keluarga, juga harapan semoga
kelak saat dewasa aku bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk keluarga, masyarakat,
serta agama. Barangkali engkaulah yang paling bahagia menyambut kelahiranku.
Engkaulah, orang yang sembilan bulan lamanya dengan penuh kesabaran merawatku
dalam kandungan.
Aku
sudah 23 tahun, bu. Angka yang sampai saat ini kadang masih belum kupercayai
menjadi usiaku. Aku sudah besar ya, bu? Sudah banyak juga kesulitan-kesulitan
yang menghimpitmu karenaku.
Rasanya,
baru kemarin aku melewati malam saat listrik mati dengan dongeng-dongeng penghantar
tidur yang kau bisikan ke telingaku. Aku masih mengingat dengan baik
dongeng-dongeng itu, yang barangkali menjadikanku anak yang senang menulis dan
membaca sastra. Aku juga masih ingat, ketika dahulu engkau dengan sabar
mengajariku menulis, membaca, juga berhitung. Atau, ketika engkau bersama ayah
mengajari aku sholat, semuanya masih lekat aku ingat.
Hingga
aku beranjak dewasa. Aku mulai berani membantahmu, membuatmu menangis menahan
amarah. Betapa aku tak tahu diri. Padahal pengorbananmu tiada mampu tercatat
meski lautan menjadi tinta dan ranting-ranting pohon di dunia menjadi pena-nya.
23
tahun. Kurasa, ia bukanlah masa yang sebentar untuk sebuah perjalanan melewati
segala macam rasa. Bahagia, terluka, senang, sedih, pahit, manis, semuanya talah
engkau telan dalam merawat, mendidik, dan membesarkanku hingga di detik ini. Di
detik usia 23 tahunku. Jika ada yang ingin mengucapkan selamat, maka engkaulah
yang berhak menerima ucapan itu. Selamat, engkau tlah teruji kesabarannya,
kebijaksanaanya, kekuatannya, serta ketulusannya.
Adalah
hanya doa yang bisa kupanjatkan, semoga Allah membalas segala pengorbananmu
dengan surga.
24 Februari 2017

Komentar
Posting Komentar