‘Keseruan’ Hari Pertama Melatih Kemandirian
Sepekan ke depan, saya akan melatih konsistensi saya
untuk mencuci pakaian setiap hari. Sebelum ini, sebenarnya saya pernah mencoba
aktivitas rutin ini. Tapi karena rasa malas dan manajemen waktu
yang tak beraturan, akhirnya pekerjaan yang menurut saya penting itu sering
terbengkalai. Mengapa saya katakan penting? Pertama, karena seringkali ketika
berhari-hari tak mencuci, cucian menggunung dan rasa malas malah semakin
menjadi. Kedua, yang menjadi alasan saya lebih suka mencuci setiap hari adalah
karena saya lumayan sibuk di luar sehingga mengharuskan saya untuk menggunakan
pakaian lengkap dari ujung kaki sampai ujung kepala. Maka, satu hari pun biasanya
sudah ada satu ember kecil pakaian kotor milik saya pribadi. Kadang, kalau
terlalu lama menumpuk, saya malah kesulitan mencari pakaian mana yang bisa saya
pakai hari berikutnya dan pada akhirnya menghambat waktu yang seharusnya saya
efektifkan sebaik mungkin. Dan yang ketiga adalah karena seringkali malah Ibu
saya yang pada akhirnya mencuci pakaian saya karena melihatnya berhari-hari
menumpuk di keranjang pakaian. Itulah mengapa saya memilih aktivitas ini yang
akan saya latih pertama kali di game level 2 ini.
Malam
hari sebelum tidur, saya sudah mewanti-wanti diri saya untuk bangun lebih awal.
Agenda esok hari tlah saya rencanakan. Alarmpun tlah terpasang. Saya simpan di
atas kepala sehingga tak ada alasan untuk saya tidak bangun ketika alarm
berbunyi.
Alhamdulillah,
kebisingan nada alarm di tengah-tengah rasa kantuk, mampu membuat mata saya
sedikit demi sedikit terbuka. Betapa beratnya setelah berhari-hari sebelumnya
bangun beberapa menit lebih lambat dari hari ini. Tapi tekad yang kuat mampu
mengalahkan sgala alasan untuk tetap berbaring di atas kasur. Saya paksakan
tubuh yang malas-malasan itu untuk bangkit, kemudian langsung menuju kamar mandi
untuk mengambil wudhu. Setelah meneguk segelas air, saya langsung memilah baju
kotor yang menumpuk di keranjang.
Sebelum
ini saya pernah membuat perjanjian dengan adik saya kalau saya akan cucikan
baju seragam sekolahnya, sementara dia harus mencuci baju-bajunya yang lain
juga menyapu lantai serta membuka dan menutup jendela rumah. Maka, melihat baju
batik sekolah adik saya yang ia pakai kemarin dalam keadaan kusut tercampur
dengan pakaian kotor yang lain, saya yang tengah bersemangat mencuci langsung
mengambil dan merendamnya.
UPSSSSSSSSS! Saya lupa kalau hari ini masih hari
kamis. Artinya, baju batik itu masih harus dipakai oleh adik saya. Dalam hati,
saya mulai mencari-cari alasan untuk ‘mencuci tangan’ atas kesalahan saya ini.
“Lagian, kenapa tidak digantung atau disimpan di tempat lain.” Gerutu saya
dalam hati. Tapi kemudian saya banyak-banyak beristighfar, bagaimanapun ini
keteledoran saya. Saya langsung mengangkatnya dari rendaman dan memerasnya
kuat-kuat. Kemudian menggantungnya. Saya tahu, baju itu takkan kering
sepenuhnya, dan saya membayangkan adik saya yang lumayan cengeng akan ngambek
sambil menangis hehehe. Maka kemudian saya mengingat kembali materi pertama
kuliah bunda sayang; Komunikasi Produktif! “Saya harus meminta maaf.” Pikir
saya. Ada hal lain juga yang saya pikirkan ketika itu. Bahwa kejadian hari ini
harus diambil pelajarannya. Ini bisa jadi bahan pijakan untuk melatih
kemandirian adik saya yang memang belum terlatih kemandiriannya, seperti
kecerobohannya menyimpan baju yang masih akan dipakai disembarang tempat.
Selesai
mencuci, saya perlihatkan baju basah itu kepada Ibu saya. Alhamdulillah, beliau
tak ngomel hanya memberi saran untuk memerasnya lebih keras lagi kemudian
menggantungnya di dekat kipas angin. Ayah saya yang juga melihat peristiwa
hectic pagi itu ikut turun tangan; mengangin-anginkan baju di depan kipas
kemudian menyetrikanya.
Adik
saya yang jadi target latihan kemandirian pekan terakhir nanti, InsyaAllah,
memang masih selalu susah untuk bangun lebih awal. Saya menunggu-nunggu di
dapur, sampai ketika dia melewati baju batiknya yang sedang diangin-anginkan di depan kipas, saya melihat
raut wajahnya yang biasa saja. Apa karena dia belum melihatnya ya? Pikir saya.
Tapi memang, saya ingat-ingat lagi, adik saya sudah berubah lebih baik akhir-akhir ini. Ketika
dijelaskan oleh Ayah saya, dia tak banyak bicara juga tak menangis. Ketika saya
jelaskan pun, wajahnya menjelaskan ‘tak
mengapa’.
Saya masih gengsi untuk meminta maaf, hehe.. Sampai akhirnya ketika dalam perjalanan menuju sekolah, saya paksakan diri untuk melakukan itu.
“Mel,
maaf yaa..” Ungkap saya sambil tertawa ringan.
“Iyaaa
hehehe.” Sahutnya dari belakang.
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
Aku suka.. Aku suka bacanya..😍
BalasHapusTrimakasih teh sudah dibaca hihii.. Ditunggu masukan dan sarannya 😆
Hapus