"Calm" Teacher
Hari ini seperti biasa saya menjalankan amanah sebagai seorang guru. Guru ngaji kalau pagi-pagi.
Awalnya, aktivitas berjalan seperti biasa. Terbilang lancar, anak-anak riang. Hingga tiba-tiba, keusilan salah satu anak pada anak lainnya membuat kelas harus sedikit gaduh beberapa saat.
Si A (dengan pikiran mencandai), memelorotkan sedikit celana si B. Gawatnya, si B ini memang tipe anak yang agak lumayan tempramen. Hingga terjadilah perkelahian di dalam kelas. Saya coba melerai, meski ternyata, tenaga si B lebih kuat dari saya. Satu pukulan si B sempat mendarat pada tubuh saya yang berusaha menutupi tubuh si A.
Setelah mulai reda, saya coba untuk menarik napas, menenangkan diri. Juga sambil mengajak kedua anak tadi duduk dan beristighfar. Saya tahu, kata-kata saya saat itu barangkali sulit untuk masuk ke dalam hati dan pikiran mereka. Untuk itu, saya lebih memilih diam. Meski ribuan kata seolah sudah sampai kerongkongan dan ingin keluar.
Setelah beberapa menit berselang, dan semua sudah lebih tenang, barulah saya mencoba mengajak anak-anak bicara. Berusaha memahami apa yang mereka rasa. Tanpa melimpahkan ini salah siapa dan siapa. Saya ingin mereka sama-sama belajar dari kejadian ini. Alhamdulillah. Tanpa saya tunjuk, salah satu dari mereka mengulur tangan minta maafnya. Ialah si B, yang meski saya sangat paham kemarahannya ketika celananya diturunkan yang mungkin membuatnya malu, tapi masih tetap mau mengakui salahnya dalam hal memukul temannya. Sementara si A, matanya memerah bekas tangisan. Kepadanya coba saya tanyakan, adakah bagian tubuhnya yg sakit? Dia menggeleng.
Meski ini kejadian buruk, tapi saya mencatat satu hal penting yang memang sedang saya latihkan. Ialah mengatur emosi, dalam segala keadaan. Alhamdulillah. Hari ini saya bisa melewatinya meski penuh dengan perjuangan menahan kata-kata yang mungkin menyakitkan.
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Awalnya, aktivitas berjalan seperti biasa. Terbilang lancar, anak-anak riang. Hingga tiba-tiba, keusilan salah satu anak pada anak lainnya membuat kelas harus sedikit gaduh beberapa saat.
Si A (dengan pikiran mencandai), memelorotkan sedikit celana si B. Gawatnya, si B ini memang tipe anak yang agak lumayan tempramen. Hingga terjadilah perkelahian di dalam kelas. Saya coba melerai, meski ternyata, tenaga si B lebih kuat dari saya. Satu pukulan si B sempat mendarat pada tubuh saya yang berusaha menutupi tubuh si A.
Setelah mulai reda, saya coba untuk menarik napas, menenangkan diri. Juga sambil mengajak kedua anak tadi duduk dan beristighfar. Saya tahu, kata-kata saya saat itu barangkali sulit untuk masuk ke dalam hati dan pikiran mereka. Untuk itu, saya lebih memilih diam. Meski ribuan kata seolah sudah sampai kerongkongan dan ingin keluar.
Setelah beberapa menit berselang, dan semua sudah lebih tenang, barulah saya mencoba mengajak anak-anak bicara. Berusaha memahami apa yang mereka rasa. Tanpa melimpahkan ini salah siapa dan siapa. Saya ingin mereka sama-sama belajar dari kejadian ini. Alhamdulillah. Tanpa saya tunjuk, salah satu dari mereka mengulur tangan minta maafnya. Ialah si B, yang meski saya sangat paham kemarahannya ketika celananya diturunkan yang mungkin membuatnya malu, tapi masih tetap mau mengakui salahnya dalam hal memukul temannya. Sementara si A, matanya memerah bekas tangisan. Kepadanya coba saya tanyakan, adakah bagian tubuhnya yg sakit? Dia menggeleng.
Meski ini kejadian buruk, tapi saya mencatat satu hal penting yang memang sedang saya latihkan. Ialah mengatur emosi, dalam segala keadaan. Alhamdulillah. Hari ini saya bisa melewatinya meski penuh dengan perjuangan menahan kata-kata yang mungkin menyakitkan.
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga
Komentar
Posting Komentar