Malaikat-malaikat Allah (1)

Hari itu, saya izin pada Ibu untuk berangkat liqo' (pengajian pekanan). Dengan mudahnya, ibu mengizinkan. Mungkin ia tahu, ngaji adalah salah satu kebutuhan anaknya yang imannya terlalu sering naik turun ini. Meski agak berat, akhirnya saya meninggalkan ruang bedah 2 nomor 334 itu. Meninggalkan bapak yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit bersama seorang yang saya sebut sebagai malaikat tak bersayap; ibu.


Selang kurang lebih 1 jam saya mendengar siraman ruhani dari ustadzah, di sesi akhir seperti biasa, bagian qodoya atau 'curhat' pun tiba. Awalnya tidak ada yang bicara. Sampai kemudian ustazdah berinisiatif menanyai kabar. Terlebih pada saya, yang memang sudah diketahui beberapa hari terakhir tengah menghadapi satu fase yang menurut manusia pada umumnya disebut ujian. Bapak sakit. Dengan vonis dokter yang kurang mengenakkan. Sakit kanker. Stadium lanjut.


Awalnya, saya tetaplah saya yang selalu sok tegar. Tersenyum. Meyakinkan orang-orang di sekeliling saya bahwa I'm okay. Don't worry!

Tapi ketika itu. Ketika satu persatu pertanyaan ustadzah meluncur, akhirnya saya ambruk. Tangis saya pecah meski coba saya tahan. Ada kegelisahan yang selama ini saya pendam. Ada kesedihan yang coba saya redam. Ada duka yang saya bungkus dengan senyuman. Yang ternyata, pada gilirannya ia membuncah juga. Beruntungnya, saya menangis pada orang-orang yang tepat. Satu persatu doa mengalir. Membersamai usahaku untuk tetap berbaik sangka pada setiap takdirNya.


-bersambung-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Bakso

Mendidik Anak dengan Bahagia

ADMIN GRUP ~