Malaikat-malaikat Allah (2)
Berita tentang sakitnya Bapak awalnya hanya ingin kubagi pada orang-orang terdekat. Tapi seolah bagai jamur di musim penghujan, ia merambat meluas hingga banyak yang menghubungi saya untuk memastikan kabar itu. Saya jawab, "iya, mohon doanya." Tak lupa, saya selalu menyisipkan emoji senyum tuk menandakan bahwa saya baik-baik saja. Saya tidaklah sesedih seperti apa yang mungkin mereka cemaskan.
Meski sebenarnya kadang manusiawi saya merongrong hebat. Terlebih ketika menghadapi kondisi kesadaran bapak yang makin hari makin memburuk. Bapak tidak lagi ingat akan dirinya, keluarganya, dan banyak hal yang sebelumnya pernah jadi memori di ingatannya. Beliau juga tak bisa mengurus kebersihan dirinya. Buang airpun terkadang begitu saja ia lakukan. Sedang ketika dipakaikan popok, dengan segera tangannya melepaskannya. Maka hari-hari saya adalah tentang menyuapi makan, membersihkan badan, hingga membersihkan kotoran. Subhanallah. Saya terus berdzikir agar tidak lepas kendali bersebab lelah (hati dan fisik).
Satu persatu malaikat-malaikat Allah dalam bentuk manusia Allah kirimkan. Sejak di rumah sakit hingga kemudian pulang ke rumah, hampir setiap hari saya harus menerima kedatangan teman, sahabat, guru, dan semua orang yang bersimpati. Ponselpun tak lepas dari sasaran. Beberapa yang tak sempat berkunjung langsung tak luput memberikan semangat dan doanya pada saya lewat sosial media. Saya berterima kasih. Dan berdoa semoga kebaikan mereka Allah balas dengan tuntas.
Banyak yang membuat haru. Ada yang tiba-tiba menanyakan alamat untuk mengirimkan obat-obatan herbal. Ada yang diam-diam menggalang dana untuk meringankan beban. Ada yang menanyai kabar hampir setiap hari tuk memastikan bahwa bapak, saya dan keluarga baik-baik saja. Ada yang jauh-jauh datang tuk mengirimkan air zam-zam. Ada yang berkumpul mendoa bersama. Ah.. Allaah.. segala puji bagiMu yang tlah menggerakkan hati-hati baik milik mereka.
-bersambung-
Meski sebenarnya kadang manusiawi saya merongrong hebat. Terlebih ketika menghadapi kondisi kesadaran bapak yang makin hari makin memburuk. Bapak tidak lagi ingat akan dirinya, keluarganya, dan banyak hal yang sebelumnya pernah jadi memori di ingatannya. Beliau juga tak bisa mengurus kebersihan dirinya. Buang airpun terkadang begitu saja ia lakukan. Sedang ketika dipakaikan popok, dengan segera tangannya melepaskannya. Maka hari-hari saya adalah tentang menyuapi makan, membersihkan badan, hingga membersihkan kotoran. Subhanallah. Saya terus berdzikir agar tidak lepas kendali bersebab lelah (hati dan fisik).
Satu persatu malaikat-malaikat Allah dalam bentuk manusia Allah kirimkan. Sejak di rumah sakit hingga kemudian pulang ke rumah, hampir setiap hari saya harus menerima kedatangan teman, sahabat, guru, dan semua orang yang bersimpati. Ponselpun tak lepas dari sasaran. Beberapa yang tak sempat berkunjung langsung tak luput memberikan semangat dan doanya pada saya lewat sosial media. Saya berterima kasih. Dan berdoa semoga kebaikan mereka Allah balas dengan tuntas.
Banyak yang membuat haru. Ada yang tiba-tiba menanyakan alamat untuk mengirimkan obat-obatan herbal. Ada yang diam-diam menggalang dana untuk meringankan beban. Ada yang menanyai kabar hampir setiap hari tuk memastikan bahwa bapak, saya dan keluarga baik-baik saja. Ada yang jauh-jauh datang tuk mengirimkan air zam-zam. Ada yang berkumpul mendoa bersama. Ah.. Allaah.. segala puji bagiMu yang tlah menggerakkan hati-hati baik milik mereka.
-bersambung-
Komentar
Posting Komentar