Malaikat-malaikat Allah (3)
Saya tak ingin kehilangan harapan. Meski dokter, lewat raut wajah serta ucapannya, mengatakan penyakit bapak sudah terlampau kronis hingga angka harapan hidupnya hanya sedikit, saya harus tetap yakin bahwa ajal setiap hamba berada dalam kekuasaanNya. Meski saya juga tak menyangsikan akan keganasan penyakit yang bapak derita.
Tiap kali melihat bapak 'jungkir balik' kesakitan, tatapan matanya yang mulai kosong, hingga badannya sempat berdarah-darah karena terbentur kayu meja ketika kesadarannya menurun parah, tangis saya memang kerap begitu saja pecah. Saya cuma bisa berdoa, "semoga Allah menggugurkan dosa-dosa bapak. Hingga kelak, ketika saatnya beliau menghadapNya, telah suci keadaannya. Aamiin."
Setelah dokter mengatakan bahwa jalan yang mungkin bisa ditempuh untuk pengobatan bapak adalah kemoterapi, ada raut-raut wajah kebingungan. Wajah milik ibu, bibi, paman, semua keluarga. Hingga akhirnya, dengan berbagai masukan dan pertimbangan, kami memutuskan untuk merawat bapak di rumah. Kami berikhtiar dengan obat-obatan herbal.
Hari-hari ini, saya memutuskan untuk mengurangi kegiatan di luar. Paling jika kegiatan itu memang benar-benar urgent, barulah saya meminta izin pada ibu untuk pergi sebentar. Ibuku, selalu rela hati mengizinkan. Ia bahkan, sempat mengungkapkan rasa kasihannya pada anak gadisnya ini. Barangkali ia berpikir, saya masih terlalu dini untuk mengurusi bapak yang kondisinya demikian. Dalam hati saya malah mengucap syukur. Buat saya, ini adalah cara Allah mendewasakan.
Jujur, awalnya saya enggan untuk membersihkan kotoran bapak. Pertama kali melihat ibu yang membersihkannya dengan penuh kerelaan. Saya mendoa ketika melihat adegan itu, "Ya Allah berikan surga untuk ibu."
Hingga kemudian, ketika saya harus menjaga bapak sendirian (karena ibu sedang keluar), Allah skenariokan bapak buang air. Saya yang awalnya merasa enggan, pada akhirnya tanpa pikir panjang langsung membersihkan. Rasa mual yang awalnya menghinggap, lama kelamaan menguap dengan sendirinya. Saya bisa! Batinku bangga.
Ini bukan prestasi memnang. Tapi setidaknya, ada yang bisa saya pelajari dari episode hidup kali ini. Mempelajarinya dari sosok malaikat tak bersayap bernama ibu.
Pikiran saya jadi mundur ke belakang. Berapa kali ibu melakukan hal yang sama seperti yang baru saya lakukan pada bapak ketika saya kecil dulu? Berkali-kali!! Apa ia merasa jijik? Tidak!!
Rabbi.. betapa indah sekali rencanaMu.
Betapa benar, Allah tak menciptakan segala sesuatu dalam kehidupan untuk kesia-siaan. Juga rangkaian takdir ini, semuanya diciptakan untuk diambil sebagai pelajaran.
Tiap kali melihat bapak 'jungkir balik' kesakitan, tatapan matanya yang mulai kosong, hingga badannya sempat berdarah-darah karena terbentur kayu meja ketika kesadarannya menurun parah, tangis saya memang kerap begitu saja pecah. Saya cuma bisa berdoa, "semoga Allah menggugurkan dosa-dosa bapak. Hingga kelak, ketika saatnya beliau menghadapNya, telah suci keadaannya. Aamiin."
Setelah dokter mengatakan bahwa jalan yang mungkin bisa ditempuh untuk pengobatan bapak adalah kemoterapi, ada raut-raut wajah kebingungan. Wajah milik ibu, bibi, paman, semua keluarga. Hingga akhirnya, dengan berbagai masukan dan pertimbangan, kami memutuskan untuk merawat bapak di rumah. Kami berikhtiar dengan obat-obatan herbal.
Hari-hari ini, saya memutuskan untuk mengurangi kegiatan di luar. Paling jika kegiatan itu memang benar-benar urgent, barulah saya meminta izin pada ibu untuk pergi sebentar. Ibuku, selalu rela hati mengizinkan. Ia bahkan, sempat mengungkapkan rasa kasihannya pada anak gadisnya ini. Barangkali ia berpikir, saya masih terlalu dini untuk mengurusi bapak yang kondisinya demikian. Dalam hati saya malah mengucap syukur. Buat saya, ini adalah cara Allah mendewasakan.
Jujur, awalnya saya enggan untuk membersihkan kotoran bapak. Pertama kali melihat ibu yang membersihkannya dengan penuh kerelaan. Saya mendoa ketika melihat adegan itu, "Ya Allah berikan surga untuk ibu."
Hingga kemudian, ketika saya harus menjaga bapak sendirian (karena ibu sedang keluar), Allah skenariokan bapak buang air. Saya yang awalnya merasa enggan, pada akhirnya tanpa pikir panjang langsung membersihkan. Rasa mual yang awalnya menghinggap, lama kelamaan menguap dengan sendirinya. Saya bisa! Batinku bangga.
Ini bukan prestasi memnang. Tapi setidaknya, ada yang bisa saya pelajari dari episode hidup kali ini. Mempelajarinya dari sosok malaikat tak bersayap bernama ibu.
Pikiran saya jadi mundur ke belakang. Berapa kali ibu melakukan hal yang sama seperti yang baru saya lakukan pada bapak ketika saya kecil dulu? Berkali-kali!! Apa ia merasa jijik? Tidak!!
Rabbi.. betapa indah sekali rencanaMu.
Betapa benar, Allah tak menciptakan segala sesuatu dalam kehidupan untuk kesia-siaan. Juga rangkaian takdir ini, semuanya diciptakan untuk diambil sebagai pelajaran.
Komentar
Posting Komentar